Bagian II · Modul 5 dari 8 · Menengah
Proses Audit Internal dan Cara Menulis Temuan Audit (5C)
Dari surat tugas sampai temuan ditutup. Pelajari alur penugasan audit, teknik pengujian, sampling, dan cara menulis temuan 5C yang dibaca direksi.
14 menit baca · Diperbarui · 6 referensi
Intinya
- –Penugasan audit punya empat tahap besar: perencanaan, pelaksanaan (fieldwork), pelaporan, dan pemantauan tindak lanjut.
- –RCM (matriks risiko-kontrol) dan kertas kerja adalah tulang punggung penugasan. Orang lain yang kompeten harus bisa sampai ke kesimpulan yang sama dari dokumen itu.
- –Temuan yang baik memuat 5C: Criteria, Condition, Cause, Consequence, dan Corrective action, lalu diberi peringkat sesuai signifikansinya.
- –Hasil sampel bisa meleset dari kondisi populasi. Kalau datanya tersedia, konfirmasi dengan analitik sebelum menyimpulkan besarnya masalah.
- –Audit belum selesai saat laporan terbit. Nilainya baru terasa ketika rencana aksi benar-benar dijalankan, dan itu butuh hubungan yang dipercaya dengan auditee.
Kamu baru tiga bulan jadi staf audit. Supervisor bilang, “Minggu depan kita audit proses klaim reimburse, kamu yang pegang pengujian.” Kamu buka folder, isinya data 4.300 klaim setahun. Mau mulai dari mana? Cek semuanya satu per satu? Pilih yang nominalnya besar saja? Lalu kalau ketemu masalah, nulisnya bagaimana supaya direksi mau baca dan bertindak?
Modul ini membahas alur kerja satu penugasan audit dari awal sampai akhir, sesuai domain pelaksanaan layanan dalam IIA Global Internal Audit Standards [1]. Fokusnya praktis: apa yang dikerjakan di tiap tahap, cara memilih sampel, cara menulis dan memeringkat temuan, sampai cara menjaga hubungan baik dengan pihak yang diaudit.
Kenapa alur ini perlu kamu kuasai sejak awal
Standar audit internal global yang diterbitkan IIA pada 2024 dan berlaku sejak Januari 2025 mengelompokkan pekerjaan penugasan ke dalam satu domain tersendiri, yaitu pelaksanaan layanan audit internal [1]. Isinya mencakup tiga prinsip besar: merencanakan penugasan secara efektif, melaksanakan pekerjaan penugasan, serta mengomunikasikan hasil dan memantau rencana aksi. Jadi, alur yang kamu pelajari di sini bukan sekadar kebiasaan kantor, tapi memang yang diharapkan standar profesi.
Gampangnya gini: auditor junior jarang diminta merancang strategi audit tahunan. Yang sehari-hari kamu kerjakan justru penugasan, yaitu menguji, mendokumentasikan, dan menulis temuan. Auditor yang rapi di tahap ini cepat dipercaya memegang area yang lebih besar. Sebaliknya, kertas kerja berantakan atau temuan yang lemah bisa membuat satu laporan dipertanyakan seluruhnya.
Istilah kunci yang akan sering kamu dengar
| Istilah | Artinya | Contoh |
|---|---|---|
| Penugasan (engagement) | Satu proyek audit dengan tujuan dan ruang lingkup tertentu | Audit proses klaim reimburse 2025 |
| Auditee | Unit atau orang yang prosesnya diaudit | Divisi HR dan Finance |
| Walkthrough | Menelusuri satu transaksi dari awal sampai akhir untuk memahami proses | Ikuti satu klaim dari pengajuan sampai dana ditransfer |
| RCM | Matriks risiko-kontrol: daftar risiko, kontrol, dan cara mengujinya | Risiko klaim fiktif, kontrol approval atasan |
| Populasi | Seluruh item yang relevan dengan pengujian | 4.312 klaim Januari–Desember 2025 |
| Pengecualian (exception) | Item yang tidak memenuhi kriteria | Klaim yang disetujui oleh pemohon sendiri |
| Kertas kerja | Dokumentasi pengujian, bukti, dan kesimpulan | WP C.2 uji approval klaim |
| Rencana aksi manajemen | Komitmen auditee untuk memperbaiki, lengkap dengan PIC dan tenggat | Blokir self-approval paling lambat 31 Maret |
Siklus penugasan audit
Gambar 1. Siklus satu penugasan
Tahap perencanaan penugasan
- 1
Surat tugas dan pemberitahuan
Kirim memo ke auditee berisi tujuan, ruang lingkup, periode, tim, dan jadwal. Hindari audit kejutan kecuali untuk kas atau dugaan fraud.
- 2
Pahami proses
Baca SOP, laporan audit sebelumnya, data kinerja, lalu lakukan walkthrough: ikuti satu transaksi dari awal sampai akhir.
- 3
Penilaian risiko penugasan
Identifikasi apa yang bisa salah dan kontrol apa yang ada. Hasilnya berupa RCM (matriks risiko-kontrol).
- 4
Program kerja
Tulis langkah pengujian, sumber data, ukuran sampel, dan siapa yang mengerjakan. Minta reviu supervisor.
- 5
Entry meeting
Rapat pembuka dengan auditee untuk menyepakati jadwal, data yang dibutuhkan, dan narahubung.
Perencanaan sering dianggap formalitas, padahal di sinilah kualitas audit ditentukan. Ruang lingkup yang terlalu luas membuat tim kehabisan waktu, sedangkan ruang lingkup yang terlalu sempit membuat risiko besar terlewat. Patokan praktis: kalau tujuan penugasan tidak bisa ditulis dalam satu atau dua kalimat, berarti masih terlalu kabur.
Matriks risiko-kontrol: peta kerja auditor
RCM adalah jembatan antara pemahaman proses dan pengujian. Setiap baris menjawab empat pertanyaan: apa yang bisa salah, kontrol apa yang mencegah atau mendeteksinya, apakah kontrol itu dirancang dengan baik, dan bagaimana cara membuktikan kontrol itu benar-benar berjalan.
| Risiko | Kontrol | Jenis | Prosedur uji |
|---|---|---|---|
| Klaim fiktif atau berlebih disetujui | Approval atasan langsung di HRIS sesuai matriks wewenang | Preventif, otomatis | Uji 40 sampel; analitik self-approval seluruh populasi |
| Klaim dibayar dua kali | Sistem menolak nomor nota yang sama | Preventif, otomatis | Analitik duplikat nomor nota dan nominal |
| Klaim melebihi plafon | Validasi plafon per grade di HRIS | Preventif, otomatis | Reperformance: bandingkan klaim dengan tabel plafon |
| Kesalahan transfer | Rekonsiliasi bulanan pembayaran vs klaim disetujui | Detektif, manual | Inspeksi 3 rekonsiliasi bulanan beserta tanda tangan reviu |
Bedakan dua jenis pengujian. Uji rancangan (design) menjawab “seandainya kontrol ini dijalankan, apakah cukup untuk menekan risikonya?”. Uji efektivitas operasi (operating effectiveness) menjawab “apakah kontrol ini benar-benar dijalankan secara konsisten sepanjang periode?”. Kalau rancangannya sudah lemah, tidak perlu menghabiskan waktu menguji pelaksanaannya; langsung jadikan temuan rancangan.
Kertas kerja dan fieldwork
Kertas kerja (working papers) adalah dokumentasi semua yang auditor lakukan: data yang diminta, pengujian, bukti, dan kesimpulan. Patokannya sederhana: auditor lain yang kompeten, tanpa bertanya padamu, harus bisa memahami apa yang kamu uji dan sampai ke kesimpulan yang sama.
| Bagian | Isi | Contoh |
|---|---|---|
| Header | Nama penugasan, nomor referensi, penyusun, pereviu, tanggal | AI-2026-07 / WP C.2 / Disusun: Rina / Direviu: Arif |
| Tujuan | Apa yang ingin dibuktikan | Memastikan klaim reimburse disetujui atasan sesuai limit |
| Sumber dan populasi | Asal data dan jumlahnya | Ekspor HRIS, 4.312 klaim Jan–Des 2025 |
| Prosedur | Langkah yang dilakukan | Pilih 40 sampel acak, cocokkan approval dengan matriks wewenang |
| Hasil | Apa yang ditemukan | 3 dari 40 klaim disetujui oleh pemohon sendiri |
| Kesimpulan | Jawaban atas tujuan | Kontrol approval tidak berjalan efektif |
| Teknik | Artinya | Kekuatan bukti |
|---|---|---|
| Inquiry (wawancara) | Bertanya ke auditee | Lemah jika berdiri sendiri |
| Observasi | Melihat langsung proses berjalan | Sedang, hanya berlaku saat diamati |
| Inspeksi dokumen | Memeriksa dokumen atau catatan | Sedang sampai kuat |
| Reperformance | Auditor mengulang kontrolnya sendiri | Kuat |
| Analitik data | Menguji seluruh populasi dengan alat bantu | Kuat bila data lengkap dan andal |
| Konfirmasi | Meminta jawaban langsung dari pihak ketiga | Kuat |
Bukti tidak hanya datang dari dokumen. Penelitian tentang audit internal hibrida menyoroti bahwa mode komunikasi (tatap muka, panggilan video, atau tertulis) bisa memengaruhi kesediaan manajer berbagi pengetahuan dengan auditor [5]. Untuk wawancara penting, usahakan tatap muka atau video, bukan sekadar daftar pertanyaan lewat email.
Sampling: berapa banyak yang harus dicek?
Kalau tidak bisa menguji 100% populasi, auditor memakai sampel. Ada dua pendekatan: statistik (sampel acak dengan perhitungan tingkat keyakinan, hasilnya bisa diproyeksikan) dan nonstatistik/judgmental (dipilih berdasarkan pertimbangan, misalnya transaksi besar atau tidak biasa). Untuk uji kontrol, praktik yang lazim adalah menyesuaikan jumlah sampel dengan frekuensi kontrol.
Gambar 2. Panduan umum sampel uji kontrol
Contoh hitungan: membaca hasil sampel
Dari 40 sampel klaim, 3 disetujui pemohon sendiri. Tingkat penyimpangan sampel = 3 ÷ 40 = 7,5%. Kalau fungsi audit menetapkan toleransi penyimpangan, misalnya 5%, hasil ini sudah melewati batas sehingga kontrol tidak bisa diandalkan. Lalu berapa besar masalahnya di populasi? Proyeksi kasar 7,5% × 4.312 klaim memberi sekitar 323 klaim.
Nah, di sini ada pelajaran penting. Ketika tim menjalankan analitik atas seluruh 4.312 klaim, yang benar-benar disetujui pemohon sendiri ternyata 47 klaim, atau sekitar 1,1%. Sampel kebetulan menangkap tiga dari sedikit kasus itu. Kesimpulan bahwa kontrolnya gagal tetap benar, tetapi angka 323 klaim akan melebih-lebihkan dampak. Karena itu, kalau datanya tersedia, konfirmasi besarnya masalah dengan analitik populasi sebelum menulis angka di laporan.
Menulis temuan dengan 5C
Temuan audit adalah kesenjangan antara “yang seharusnya” dan “yang terjadi”. Standar IIA meminta temuan dievaluasi dan dikomunikasikan dengan jelas beserta signifikansinya [1]. Format yang paling banyak dipakai adalah 5C.
| Unsur | Pertanyaan | Contoh (klaim reimburse) |
|---|---|---|
| Criteria (kriteria) | Apa yang seharusnya? | Kebijakan reimburse: klaim disetujui atasan langsung; pemohon tidak boleh menyetujui klaimnya sendiri. |
| Condition (kondisi) | Apa yang terjadi? | 3 dari 40 sampel (7,5%) disetujui oleh pemohon sendiri, total Rp18,6 juta. Analitik seluruh populasi menemukan 47 klaim serupa senilai Rp212 juta. |
| Cause (penyebab) | Kenapa terjadi? | Konfigurasi HRIS mengizinkan delegasi approval ke diri sendiri saat atasan cuti. |
| Consequence (akibat) | Apa dampaknya? | Risiko klaim fiktif atau berlebih tanpa deteksi; potensi kerugian bertambah seiring jumlah karyawan. |
| Corrective action (rekomendasi) | Apa yang harus dilakukan? | Blokir self-approval di HRIS, reviu ulang 47 klaim, dan buat laporan bulanan klaim yang disetujui delegasi. |
- Kondisi harus faktual dan terukur. Tulis angka, periode, dan sumber. Hindari kata “beberapa” atau “banyak”.
- Penyebab adalah akar masalah, bukan gejala. “Staf lalai” jarang jadi akar masalah. Tanya “kenapa” sampai ketemu kelemahan sistem atau proses.
- Rekomendasi menjawab penyebab, spesifik, dan bisa dikerjakan. Sertakan rencana aksi manajemen, penanggung jawab, dan tenggat.
- Beri peringkat. Misalnya tinggi/sedang/rendah, supaya pembaca tahu mana yang harus didahulukan.
| Kurang tepat | Lebih baik |
|---|---|
| Banyak klaim tidak disetujui dengan benar. | 3 dari 40 sampel (7,5%) klaim Januari–Desember 2025 disetujui oleh pemohon sendiri, senilai Rp18,6 juta. |
| Penyebab: kurangnya kesadaran karyawan. | Penyebab: HRIS mengizinkan self-approval saat delegasi aktif, dan tidak ada laporan pengecualian. |
| Rekomendasi: tingkatkan pengawasan. | Rekomendasi: blokir self-approval di HRIS paling lambat 31 Maret; PIC: Kepala HRIS. |
| Akibat: dapat merugikan perusahaan. | Akibat: klaim fiktif bisa lolos tanpa deteksi; 47 klaim senilai Rp212 juta perlu direviu ulang. |
Satu prinsip lagi: tulis untuk pembaca yang sibuk. Kalimat aktif, satu ide per paragraf, dan istilah teknis dijelaskan. Temuan yang bisa dipahami dalam satu menit jauh lebih mungkin ditindaklanjuti dibanding temuan tiga halaman yang penuh kutipan SOP.
Gambar 3. Dari bukti ke temuan
- 1Bukti terkumpul
- 2Bandingkan kriteria
- 3Cari akar masalah
- 4Ukur dampak
- 5Rekomendasi
Teknik mencari akar masalah
Teknik paling sederhana adalah 5 Whys: tanya “kenapa” berulang sampai jawabannya menunjuk sesuatu yang bisa diperbaiki. Contoh: Kenapa klaim disetujui pemohon sendiri? Karena delegasi approval jatuh ke dirinya. Kenapa bisa? Karena HRIS tidak membatasi penerima delegasi. Kenapa tidak dibatasi? Karena saat implementasi, pengaturan delegasi tidak masuk daftar uji. Nah, akar masalahnya ada di proses perubahan sistem, bukan di karyawan yang “nakal”.
Memberi peringkat temuan
Standar IIA meminta auditor memprioritaskan temuan berdasarkan signifikansinya [1]. Di praktik, peringkat biasanya mempertimbangkan dua hal: seberapa besar dampaknya kalau risiko terjadi, dan seberapa mungkin risiko itu terjadi dengan kontrol yang ada sekarang. Kriteria peringkat harus tertulis dan dipakai konsisten, supaya diskusi di exit meeting fokus pada fakta, bukan perasaan.
Gambar 4. Menentukan peringkat temuan
Kemungkinan terjadi →
| Peringkat | Ciri | Tenggat rencana aksi yang lazim |
|---|---|---|
| Tinggi | Kerugian material, pelanggaran regulasi, atau kontrol kunci tidak ada sama sekali | Segera, umumnya dalam 1–3 bulan |
| Sedang | Kontrol ada tapi tidak konsisten; dampak terbatas pada satu unit | 3–6 bulan |
| Rendah | Perbaikan administratif atau efisiensi | Sampai 12 bulan atau digabung dengan perbaikan proses lain |
Laporan dan tindak lanjut
- 1
Exit meeting
Bahas draf temuan dengan auditee. Tujuannya mengonfirmasi fakta dan menyepakati rencana aksi, bukan berdebat soal peringkat.
- 2
Laporan final
Ringkasan eksekutif satu halaman di depan: opini atau kesimpulan umum, jumlah temuan per peringkat, dan 2–3 isu utama.
- 3
Distribusi
Kirim ke pimpinan auditee, direksi terkait, dan komite audit sesuai piagam.
- 4
Pemantauan
Catat semua rencana aksi di tracker. Minta bukti penyelesaian, lalu uji ulang untuk temuan peringkat tinggi.
- 5
Eskalasi
Rencana aksi yang lewat tenggat berulang kali dilaporkan ke komite audit.
| Bagian | Isi singkat |
|---|---|
| Latar dan ruang lingkup | Proses klaim reimburse, periode Januari–Desember 2025, seluruh unit |
| Kesimpulan umum | Kontrol perlu perbaikan: approval otomatis bisa dilewati lewat fitur delegasi |
| Jumlah temuan | 1 tinggi, 2 sedang, 1 rendah |
| Isu utama | 47 klaim senilai Rp212 juta disetujui pemohon sendiri |
| Yang sudah baik | Validasi plafon per grade berjalan konsisten pada seluruh sampel |
| Komitmen manajemen | Seluruh rencana aksi disepakati, tenggat terakhir 31 Mei 2026 |
| No temuan | Rencana aksi | PIC | Tenggat | Status | Bukti |
|---|---|---|---|---|---|
| AI-2026-07/01 | Blokir self-approval di HRIS | Kepala HRIS | 31 Mar 2026 | Selesai, diuji ulang | Screenshot konfigurasi, uji 10 transaksi |
| AI-2026-07/02 | Reviu ulang 47 klaim | Manajer Payroll | 30 Apr 2026 | Berjalan (30/47) | Rekap hasil reviu |
| AI-2026-07/03 | Laporan bulanan klaim via delegasi | Kepala Finance | 31 Mei 2026 | Belum mulai | - |
Temuan audit internal yang berkualitas juga punya pembaca lain. Penelitian terbaru menelaah bagaimana auditor eksternal mengandalkan temuan dan rekomendasi audit internal [3], dan sebaliknya bagaimana auditor internal menilai temuan auditor eksternal, termasuk pengaruh kolaborasi dan cara kelemahan kontrol terdeteksi [4]. Studi kasus audit pengendalian internal juga menunjukkan bahwa dampak sebuah audit sangat dipengaruhi kualitas proses dan dialog dengan auditee [2].
Menjaga hubungan dengan auditee
Jujur aja, tidak ada yang senang diaudit. Tapi auditee yang merasa diperlakukan adil jauh lebih terbuka memberi data dan lebih serius menjalankan rencana aksi. Penelitian berbasis wawancara dengan para kepala audit internal menggambarkan bagaimana auditor membangun kepercayaan manajemen lewat kredibilitas dan kejelasan maksud, misalnya dengan menjelaskan tujuan audit sejak awal dan konsisten dengan apa yang dijanjikan [6].
- Tidak ada kejutan di laporan. Setiap temuan sudah dibicarakan dengan auditee sebelum exit meeting.
- Konfirmasi fakta, bukan opini. Minta auditee mengecek angka dan kronologi. Kalau ada data yang belum kamu lihat, terima dan uji.
- Pisahkan orang dari proses. Tulis “approval tidak dilakukan”, bukan “Pak Budi tidak menyetujui”.
- Akui yang sudah berjalan baik. Satu paragraf praktik baik membuat laporan terasa adil.
- Tetap independen. Ramah bukan berarti melunakkan temuan. Peringkat tetap mengikuti kriteria tertulis.
Kalau auditee tidak setuju
Perbedaan pendapat itu wajar. Pertama, pisahkan dulu jenis ketidaksetujuannya. Kalau yang dipersoalkan adalah fakta (angka, tanggal, kronologi), cek ulang buktinya; kalau auditee benar, perbaiki temuan tanpa gengsi. Kalau yang dipersoalkan adalah peringkat atau rekomendasi, kembalikan ke kriteria tertulis dan tawarkan alternatif rencana aksi yang tetap menjawab akar masalah. Kalau tetap buntu, standar IIA memberi ruang untuk mencantumkan tanggapan manajemen di laporan, sehingga pembaca bisa menilai sendiri [1]. Yang tidak boleh: menghapus temuan yang didukung bukti hanya karena auditee keberatan.
Situasi lain yang perlu diwaspadai adalah ketika manajemen memilih menerima risiko, misalnya “kami tahu kontrolnya lemah, tapi biaya perbaikannya terlalu mahal.” Itu hak manajemen. Tugas auditor memastikan keputusan tersebut diambil oleh orang yang berwenang dan, bila risikonya melebihi selera risiko organisasi, dikomunikasikan ke pimpinan yang lebih tinggi atau dewan [1].
Variasi penerapan di berbagai organisasi
| Organisasi | Ciri penugasan | Yang perlu kamu perhatikan |
|---|---|---|
| Startup | Tim audit kecil atau dirangkap; data ada di aplikasi dan spreadsheet | Fokus pada kontrol paling kritis; kertas kerja tetap wajib meski sederhana |
| Perusahaan besar | Metodologi baku, software audit, reviu berjenjang | Ikuti template dan penomoran kertas kerja; tenggat reviu ketat |
| BUMN | Satuan Pengawasan Intern (SPI) melapor ke direktur utama dan berkoordinasi dengan komite audit | Selain auditor eksternal, ada pemeriksa eksternal seperti BPK; temuan bisa ditelaah banyak pihak |
| Instansi pemerintah | Dilakukan oleh aparat pengawasan intern (APIP) seperti inspektorat | Kriteria sering berupa peraturan; bahasa laporan formal dan mengikuti pedoman instansi |
Apa pun bentuk organisasinya, logikanya sama: rencanakan berdasarkan risiko, uji dengan bukti yang cukup, tulis temuan yang bisa ditindaklanjuti, dan pastikan perbaikannya terjadi. Yang berbeda hanya formalitas, alat, dan siapa saja pembaca laporannya.
Studi kasus
Studi kasus: PT Arunika Retail Indonesia
Audit internal PT Arunika Retail Indonesia (fiktif), jaringan 210 minimarket, menerbitkan 64 rekomendasi dalam setahun, tapi hanya 35% selesai tepat waktu. Penyebabnya: rekomendasi terlalu umum (“perbaiki pengawasan stok”), tanpa penanggung jawab dan tenggat. Tim audit mengubah format menjadi 5C dengan rencana aksi yang disepakati di exit meeting, lalu membuat dashboard tindak lanjut yang dibahas tiap rapat komite audit. Dalam dua triwulan, penyelesaian tepat waktu naik menjadi 81%, dan selisih stok di toko yang ditindaklanjuti turun dari 1,4% menjadi 0,6% dari penjualan.
Latihan mandiri dan checklist penugasan
Latihan hitung
Hitung tingkat penyimpangan sampel dan proyeksinya
Kamu staf audit yang baru selesai menguji sampel klaim reimburse. Masukkan jumlah sampel, jumlah penyimpangan, toleransi, dan ukuran populasi. Nilai awalnya sama dengan contoh di bab sampling. Coba ubah jumlah penyimpangan dari 0 sampai 4 dan lihat kapan kesimpulannya berubah.
Hasil
- Proyeksi kasar ke populasi
- 323
- Selisih terhadap toleransi
- 2,5%
- Tingkat penyimpangan sampel
- 7,5%
Tingkat penyimpangan melewati toleransi, jadi kontrol tidak bisa diandalkan. Tapi jangan langsung menulis angka proyeksi di laporan. Di contoh modul, proyeksinya 323 klaim, padahal analitik populasi hanya menemukan 47. Kalau datanya ada, konfirmasi dulu dengan analitik.
Latihan mengelompokkan
Pilah unsur temuan: kriteria, kondisi, penyebab, atau akibat?
Kamu sedang menyusun temuan audit uang muka perjalanan dinas. Kalimat-kalimat di bawah sudah ditulis tim, tapi tercampur. Masukkan tiap kalimat ke unsur 5C yang tepat. Rekomendasi sengaja tidak dimasukkan karena paling mudah dikenali; empat unsur ini yang paling sering tertukar.
- 1.
Kebijakan perjalanan dinas: uang muka wajib dipertanggungjawabkan paling lambat 14 hari setelah perjalanan selesai.
- 2.
Dari 30 sampel uang muka, 9 (30%) belum dipertanggungjawabkan lebih dari 60 hari, total Rp41,5 juta.
- 3.
Sistem keuangan tidak punya laporan umur uang muka, sehingga keterlambatan tidak terpantau siapa pun.
- 4.
Uang muka yang tidak dipertanggungjawabkan berisiko menjadi kerugian, dan beban perjalanan bisa tercatat lebih rendah dari seharusnya.
- 5.
Matriks wewenang: uang muka di atas Rp10 juta wajib disetujui kepala divisi.
- 6.
Belum ada aturan di SOP bahwa uang muka baru ditahan selama uang muka lama belum diselesaikan.
- 7.
2 karyawan menerima uang muka baru padahal uang muka sebelumnya belum diselesaikan.
- 8.
Saldo uang muka menumpuk di neraca dan memperlambat tutup buku bulanan.
Tugas lanjutan: audit mini (sekitar 2 jam)
- 1
Pilih proses sehari-hari
Contoh: reimburse uang transport di organisasi kampus atau kas kecil di kafe tempat kamu part-time.
- 2
Buat RCM tiga baris
Tulis tiga risiko, kontrol yang ada, dan cara mengujinya.
- 3
Uji 10 transaksi
Pilih acak dari catatan yang ada, lalu catat hasilnya di format kertas kerja di atas.
- 4
Tulis satu temuan 5C
Kalau tidak menemukan masalah, tulis kesimpulan bahwa kontrol berjalan beserta buktinya. Itu juga hasil audit.
- 5
Minta orang lain membaca
Kalau temannya bisa paham tanpa bertanya, kertas kerjamu sudah cukup baik.
- Tujuan dan ruang lingkup penugasan tertulis jelas dan disepakati auditee.
- RCM disusun dan direviu sebelum pengujian dimulai.
- Setiap sampel tercatat beserta metode pemilihannya.
- Setiap angka di temuan punya referensi ke kertas kerja.
- Temuan memuat 5C dan peringkat sesuai kriteria tertulis.
- Rencana aksi punya PIC, tenggat, dan bukti penyelesaian yang disepakati.
- Tracker tindak lanjut diperbarui dan temuan peringkat tinggi diuji ulang.
Cek pemahaman
Manakah rumusan “Cause” yang paling tepat untuk temuan klaim reimburse yang disetujui oleh pemohon sendiri?
Referensi
Artikel jurnal internasional bereputasi (Q1–Q2) terbitan 2022 ke atas, standar profesi, dan peraturan perundang-undangan resmi.
- 1.The Institute of Internal Auditors (2024). Global Internal Audit Standards. The Institute of Internal Auditors. www.theiia.org/en/standards/2024-standards/global-internal-audit-standards/Standar
- 2.Christensen, L. (2022). Internal audit: A case study of impact and quality of an internal control audit. International Journal of Auditing, 26(3), 339–353. doi.org/10.1111/ijau.12280Q2
- 3.Alzeban, A. (2026). External Auditors' Reliance on Internal Audit Findings and Recommendations. International Journal of Auditing, 30(4), 623–634. doi.org/10.1111/ijau.70034Q2
- 4.Parlier, J., & Popova, V. (2026). Exploring internal auditors’ judgments related to external auditors’ findings: the role of collaboration and control deficiency detection method. Managerial Auditing Journal, 41(6), 1023–1041. doi.org/10.1108/maj-05-2024-4343Q2
- 5.J Wetmiller, R., & Seymore, M. (2025). Hybrid internal auditing: will communication mode and message reprocessibility affect managers’ willingness to share knowledge with internal auditors? Managerial Auditing Journal, 40(5), 645–665. doi.org/10.1108/maj-05-2024-4324Q2
- 6.Vafaei, E., Singh, H., Scully, G., Gilchrist, D., & Agrawal, P. (2023). Relational contracting theory and internal audit: Chief audit executives' perspectives on creating and strengthening trust by building credibility and clarity. International Journal of Auditing, 28(1), 24–43. doi.org/10.1111/ijau.12314Q2
Masih di bagian Audit Internal
14 menit bacaII.2Three Lines Model IIA: Pengertian, Peran, dan Contoh di IndonesiaSiapa yang ambil risiko, siapa yang mengawasi, siapa yang memberi keyakinan? Three Lines Model menjawabnya tanpa bikin semua orang saling lempar tanggung jawab.Pembuka · 14 menitPembuka
14 menit bacaII.3Pengendalian Internal COSO 2013: 5 Komponen, 17 Prinsip, ContohKontrol internal bukan tumpukan SOP. Pahami kerangka COSO 2013, jenis kontrol, pemisahan tugas, dan cara menyusun matriks risiko-kontrol.Menengah · 14 menitMenengah
14 menit baca
